GAPGINDO Tanam Mangrove di Muaragembong Bekasi untuk Atasi Abrasi dan Banjir Rob

Pesisir 06 Apr 2026 48 kali dibaca
Gambar Artikel Penanaman mangrove di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi

LingkariNews – Upaya mitigasi terhadap ancaman di berbagai wilayah pesisir terus dilakukan. Menanam mangrove menjadi salah satu upaya berbasis alam yang kerap digencarkan. Gabungan Produsen Gula Indonesia bersama Lingkari Institute dan Komunitas Rawat Bumi Indonesia mengadakan penanaman mangrove di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, pada 29 Maret 2026.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 660 bibit mangrove jenis Rhizopora sp. ditanam, sebagai bagian dari upaya memperkuat kawasan pesisir yang menghadapi ancaman lingkungan, seperti abrasi, banjir rob yang terjadi secara berkala, serta penurunan muka tanah. Selain itu, wilayah di Muaragembong juga kerap terdampak jebolnya tanggul akibat luapan Sungai Citarum.

Penanaman Mangrove sebagai Solusi Alami Pesisir

Penanaman mangrove merupakan solusi berbasis alam yang efektif untuk menahan abrasi, meredam gelombang, serta memperkuat struktur tanah di wilayah pesisir. Upaya ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang dalam melindungi kawasan pesisir Muaragembong.

Selain itu, mangrove sebagai habitat pohon pesisir dengan tingkat penyerapan karbon yang tinggi juga berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim. Atas dasar tersebut GAPGINDO berupaya mengakselerasi kontribusinya terhadap lingkungan melalui dukungan terhadap kegiatan penanaman mangrove serta berbagai inisiatif pelestarian ekosistem pesisir.

Komitmen ini sejalan dengan upaya sejumlah pabrik anggota GAPGINDO yang mulai meningkatkan perhatian terhadap dampak lingkungan dari proses produksi. Berbagai langkah dilakukan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Salah satunya melalui penanaman mangrove yang sangat efektif menyerap karbon dalam jumlah besar sekaligus melindungi kawasan pesisir, sebagai bagian dari praktik industri yang berkelanjutan.

Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi bentuk keseriusan dalam menjaga ekosistem pesisir yang telah lama berkembang di wilayah tersebut. 

Jaga Habitat Lutung Jawa dan Keanekaragaman Hayati

Kawasan Muaragembong merupakan habitat penting bagi satwa langka, seperti lutung jawa (Trachypithecus auratus). Selain itu, terdapat pula pohon endemik mangga dalban (Mangifera indica var. dalban) yang menjadi bagian dari kekayaan hayati pesisir Bekasi. 

Keberadaan flora dan fauna tersebut menjadi alasan penting mengapa penanaman mangrove tidak hanya berfungsi melindungi garis pantai, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.

Mangrove dan Kehidupan Masyarakat Muaragembong 

Bagi masyarakat setempat, mangrove telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sejak puluhan tahun lalu.

“Sebelum banyak jajanan seperti sekarang, zaman saya kecil makanan saya dari mangrove. Dibekali jajannya hasil olahan mangrove,” ujar Pak Marwoto, salah satu perangkat Desa Pantai Bahagia.

Sekretaris Desa Pantai Bahagia, Ahmad Qurtuby, juga menambahkan bahwa mangrove memiliki nilai ekonomi. Mangrove dapat diolah menjadi berbagai produk, seperti jus dan dodol, yang memberikan manfaat tambahan bagi masyarakat.

Kolaborasi untuk Masa Depan Pesisir

Program penanaman mangrove ini merupakan bagian dari inisiatif berkelanjutan yang diinisiasi oleh GAPGINDO bersama Lingkari Institute dengan target penanaman sekitar 1.500 mangrove setiap tahunnya.

Selain penanaman, kegiatan ini juga mencakup pengawasan dan perawatan berkala oleh Lingkari Institute bersama Komunitas Rawat Bumi Indonesia. Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan mangrove dapat tumbuh optimal, termasuk melalui metode tambal sulam pada area yang diperlukan.

Dengan menjaga mangrove, masyarakat tidak hanya melindungi wilayah pesisir dari ancaman lingkungan, tetapi juga mempertahankan warisan ekologi dan budaya yang telah ada sejak lama.

(NY/AP)