Harga Gula Dunia Turun, Pasar Waspadai El Niño dan Perubahan Pasokan Global

Gula 10 Jun 2026 15 kali dibaca
Gambar Artikel Ilustrasi harga gula dunia turun

LingkariNews – Harga gula dunia kembali melemah pada perdagangan terbaru setelah tekanan dari pasar energi dan meningkatnya pasokan global. Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati potensi gangguan produksi akibat fenomena El Niño yang diperkirakan dapat mempengaruhi negara-negara produsen gula utama dunia.

Kontrak gula mentah New York untuk pengiriman Juli tercatat turun 1,06 persen, sementara kontrak gula putih London untuk pengiriman Agustus melemah 0,47 persen. Penurunan ini terjadi seiring anjloknya harga minyak mentah dunia yang mencapai level terendah dalam tujuh pekan terakhir.

Harga Minyak Tekan Pasar Gula

Turunnya harga minyak mentah menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga gula. Ketika harga energi melemah, harga etanol juga cenderung turun sehingga pabrik gula memiliki insentif lebih besar untuk mengalihkan tebu ke produksi gula dibandingkan bahan bakar nabati.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan pasokan gula di pasar internasional dan memberikan tekanan terhadap harga. 

Selain itu, prospek produksi gula global yang melimpah turut memperkuat sentimen negatif di pasar. Di Brasil, negara produsen gula terbesar dunia, produksi gula di wilayah Tengah-Selatan pada April 2026 mencapai 2,475 juta ton atau meningkat 55,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Kenaikan tersebut didorong oleh produktivitas tebu yang lebih tinggi. Kandungan sukrosa per ton tebu mencapai 112,58 kilogram, naik sekitar 5,4 persen dibandingkan tahun lalu.

Ekspor Thailand Menguat

Tekanan terhadap harga gula juga datang dari Thailand yang merupakan ekspor gula terbesar kedua dunia setelah Brasil.

Data perdagangan menunjukkan ekspor gula Thailand selama Januari hingga April 2026 mencapai 1,6 juta ton, meningkat 29 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Peningkatan ekspor ini memperkuat ekspektasi bahwa pasokan gula global masih berada pada level yang cukup tinggi dalam jangka pendek.

El Niño Masih Menjadi Ancaman

Meski pasokan saat ini relatif melimpah, pasar tetap mengkhawatirkan dampak El Niño terhadap produksi gula dunia.

Fenomena iklim tersebut berpotensi mengurangi curah hujan di Brasil, India, dan Thailand yang merupakan tiga wilayah penghasil gula terbesar dunia. Berkurangnya curah hujan dapat menekan produktivitas tebu dan mengurangi produksi gula pada musim mendatang. 

Badan Meteorologi India bahkan telah menurunkan proyeksi curah hujan musim monsum Juni–September menjadi 90 persen dari rata-rata historis. Sebelumnya, perkiraan curah hujan berada dia angka 92 persen.

Sementara itu, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat memperkirakan peluang munculnya El Niño antara Mei hingga Juli mencapai 82 persen. Bahkan terdapat peluang sebesar 67 persen untuk terjadinya El Niño kuat atau Super El Niño yang dapat berlangsung hingga akhir tahun.

Produksi Brasil Diperkirakan Menurun

Meski produksi awal musim menunjukkan hasil positif, sejumlah lembaga memperkirakan produksi gula Brasil pada musim 2026/2027 akan mengalami penurunan. 

Badan pasokan pangan Brasil (Conab) memperkirakan produksi gula negara tersebut turun 0,5 persen menjadi 43,95 jutan ton. Sementara produksi etanol diproyeksikan meningkat 7,2 persen.

Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) juga memperkirakan produksi gula Brasil turun sekitar 3 persen menjadi 42,5 juta ton karena sebagian tebu diperkirakan dialihkan untuk produksi etanol.

Perubahan komposisi produksi antara gula dan bioetanol menjadi faktor penting yang terus diperhatikan pasar karena dapat mempengaruhi keseimbangan pasokan global.

India Diproyeksikan Kembali Surplus 

Di India, produksi gula menunjukkan tren yang lebih postif. Hingga pertengahan April 2026, produksi gula tercatat mencapai 27,48 juta ton atau naik 7,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Asosiasi Produsen Gula Dan Bioenergi India (ISMA) memperkirakan produksi gula nasional mencapai sekitar 32 juta ton pada musim 2025/2026. Selain itu, India diperkirakan mampu mengekspor sekitar 800 ribu ton gula. 

USDA bahkan memproyeksikan India akan kembali mencatat surplus gula sebesar 2,5 juta ton pada musim 2026/2027. Jika terealisasi, kondisi ini menjadi surplus pertama setelah dua tahun terakhir pasar domestik mengalami tekanan pasokan.

Pasar Menanti Arah Produksi Global

Organisasi Gula Internasional (ISO) memperkirakan produksi gula global musim 2025/2026 mencapai rekor 182 juta ton, meningkat 3,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. 

ISO juga meningkatkan estimasi surplus gula global menjadi 2,2 juta ton, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 1,22 juta ton. 

Namun, untuk musim 2026/2027, lembaga tersebut memperkiraka produksi dunia akan turun menjadi sekitar 180 juta ton dan berpotensi mengalami defisit sebesar 262 ribu ton akibat dampak El Niño terhadap panen di India dan Thailand. 

Berbagai lembaga riset memiliki pandangan berbeda mengenai keseimbangan pasar gula tahun depan. Sebagian memperkirakan pasar akan mengalami defisit, sementara yang lain masih melihat peluang surplus pasokan. 

Perbedaan proyeksi tersebut menunjukkan bahwa pasar gula global saat ini berada dalam periode ketidakpastiaan. Di satu sisi, produksi dan ekspor yang meningkat masih menekan harga. Namun di sisi lain, ancaman perubahan iklim dan cuaca ekstrem tetap menjadi faktor yang dapat mengubah arah pasar dalam waktu singkat.

(NY)

Sumber

https://www.barchart.com/story/news/2382693/sugar-prices-tumble-as-crude-oil-plunges 

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?
5
Indonesia Penyumbang Sampah Laut Terbesar Kedua Dunia

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-