Gempa Filipina M 7,8 Picu Kerusakan Ekosistem Pesisir, Dasar Laut Terangkat hingga 2 Meter

Kelautan 17 Jun 2026 7 kali dibaca
Gambar Artikel Terumbu karang muncul dari permukaan air setelah gempa bumi berkekuatan M 7,8 di Filipina | Foto: ASEAN Today

LingkariNews — Gempa Filipina berkekuatan magnitudo 7,8 yang mengguncang Pulau Mindanao pada Senin (9/6/2026) tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga memicu perubahan geologi yang berdampak pada ekosistem pesisir dan laut. 

Kementerian Lingkungan Hidup Filipina pada Minggu (14/6/2026) menyatakan gempa tersebut memicu fenomena coastal uplift atau pengangkatan garis pantai. Dampaknya, sebagian dasar laut terangkat ke permukaan sehingga merusak terumbu karang, padang lamun, dan berbagai biota laut di kawasan tersebut.

Berdasarkan data terbaru dari badan penanggulangan bencana Filipina, gempa tersebut menewaskan 61 orang. Selain itu, sedikitnya 40 orang masih dinyatakan hilang.

Gempa Filipina Ubah Bentang Alam Pesisir

Perubahan kondisi pesisir mulai dilaporkan warga dua hari setelah gempa terjadi. Di sejumlah wilayah, garis pantai diketahui bertambah hingga sekitar 200 meter akibat dasar laut yang terdorong ke atas dan muncul ke permukaan.

Menurut Philippine Institute of Volcanology and Seismology (PHIVOLCS) fenomena tersebut dipicu oleh pergeseran tektonik di Palung Cotabato (Cotabato Trench). Pergerakan ini menyebabkan sebagian wilayah pesisir di Provinsi Sarangani dan Davao Occidental mengalami pengangkatan permukaan tanah. 

Akibatnya area dasar laut yang sebelumnya terendam kini terlihat jelas di permukaan. PHIVOLCS memperkirakan pengangkatan daratan mencapai sekitar dua meter.

Palung Cotabato yang berlokasi sekitar 50 kilometer dari pesisir selatan Mindanao memang dikenal sebagai kawasan dengan aktivitas seismik tinggi. Pada Januari 2026, wilayah tersebut juga mengalami ribuan gempa kecil dalam waktu relatif singkat.

Terumbu Karang dan Padang Lamun Muncul ke Permukaan

Tim survei lapangan menemukan bentangan terumbu karang dan padang lamun yang kini berada di atas permukaan laut akibat perubahan struktur dasar laut pascagempa.

Foto yang dirilis kantor regional Kementerian Lingkungan Hidup Filipina menunjukkan hamparan karang yang mengering. Sejumlah ikan dan biota laut lainnya juga ditemukan mati di area yang sebelumnya merupakan habitat bawah laut.

Awalnya, warga melaporkan fenomena tersebut karena khawatir gas yang dihasilkan dari bangkai organisme laut yang membusuk dapat mengganggu kesehatan masyarakat sekitar. 

Temuan tersebut kemudian mengungkap dampak lingkungan yang lebih luas dari Gempa Filipina, terutama terhadap ekosistem pesisir yang sangat bergantung pada kestabilan kondisi perairan.

Kerusakan Ekosistem Laut Berpotensi Signifikan

Kementerian Lingkungan Hidup Filipina menyebut terumbu karang dan padang lamun yang terangkat ke permukaan mulai mengalami kerusakan. Kondisi ini turut mengancam berbagai organisme yang hidup dan bergantung pada habitat tersebut.

Biota yang terdampak meliputi ikan karang, belut kerang, serta berbagai spesies laut lainnya. Ketika ekosistem pesisir kehilangan tutupan karang dan lamun, fungsi ekologisnya sebagai tempat berlindung, mencari makan, dan berkembang biak bagi berbagai organisme laut juga ikut terganggu.

Kerusakan pada terumbu karang dan padang lamun tidak hanya berdampak pada keanekaragaman hayati, tetapi juga dapat mempengaruhi produktivitas perikanan dan keseimbangan ekosistem laut dalam jangka panjang.

Pemerintah Filipina Masih Lakukan Pemetaan Dampak

Hingga saat ini, pemerinta Filipina masih melakukan survei untuk menghitung luas wilayah yang tedampak.  Proses pendataan berlangsung karena kawasan yang perlu diperiksa cukup luas dan tersebar di sejumlah lokasi pesisir.

Meski belum ada angka resmi mengenai total area yang mengalami kerusakan, otoritas setempat memperingatkan bahwa dampak lingkungan akibat Gempa Filipina ini berpotensi cukup besar. Perubahan geologi yang terjadi tidak hanya mengubah bentang alam pesisir, tetapi juga mengancam keberlangsungan berbagai eksosistem penting di wilayah selatan Filipina.

Para peneliti dan pemerintah kini terus memantau perkembangan kondisi lapangan guna memahami dampak jangka panjang fenomena coastal uplift terhadap terumbu karang, padang lamun, dan keanekaragaman hayati laut di kawasan Mindanao.

 

(NY) 

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?
5
Indonesia Penyumbang Sampah Laut Terbesar Kedua Dunia

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-