Ilustrasi banjir menggenang beberapa rumah dan jalan
LingkariNews — Bencana banjir bandang yang melanda Sumatera pada akhir November 2025 lalu menyebabkan kerusakan besar dan korban jiwa. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per hari Minggu (28/12/2025), jumlah korban meninggal akibat banjir Sumatera mencapai 1.140 orang. Sebanyak 163 orang masih dinyatakan hilang, dan ribuan lainnya terluka.
Bencana tersebut turut merusak 166.925 rumah warga di sejumlah daerah terdampak. Sebanyak 3.188 fasilitas pendidikan dan 215 fasilitas kesehatan turut mengalami kerusakan. Akses transportasi ikut terganggu akibat rusaknya 80 ruas jalan dan terputusnya 34 jembatan. Sekitar 40.000 hektare lahan sawah di tiga provinsi terdampak banjir juga rusak, dimana 4.500-5.000 hektare diantaranya mengalami puso atau gagal panen. Skala kerusakan ini menunjukkan besarnya tekanan ekologis akibat banjir bandang Sumatera.
Selain menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, bencana banjir Sumatera juga menjadi ancaman serius bagi satwa liar. Sejumlah foto yang sempat viral di media sosial memperlihatkan seekor Gajah Sumatera ditemukan mati di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, Aceh. Gajah tersebut diduga terhantam batang kayu besar dan terseret arus banjir bandang.
Kejadian tersebut menggambarkan betapa dahsyatnya banjir bandang di Sumatera. Pasalnya, gajah dikenal memiliki kecerdasan tinggi dan kemampuan alami membaca perubahan lingkungan. Ini membuat mereka biasanya mampu menghindari bahaya lebih awal. Beberapa studi bahkan menyebut gajah liar jarang menjadi korban bencana alam.
Pada bencana tsunami Aceh 2004 lalu misalnya. Ketika hampir seperempat juta orang tewas akibat gelombang tsunami yang dahsyat, tidak ada laporan tentang gajah liar yang mati atau hilang kala itu. Karena itu, kematian gajah akibat banjir Sumatera November lalu menandakan krisis ekologis yang semakin parah.
Ketua Perkumpulan Jejaring Hutan dan Satwa (PJHS), Syamsuardi, menjelaskan bahwa bencana banjir Sumatera tidak hanya memicu kematian satwa. Dalam jangka panjang, peristiwa bencana yang terjadi di sekitar habitat gajah dapat meningkatkan potensi konflik antara manusia dan gajah.
Konflik antara manusia dan gajah telah menjadi persoalan lama di Sumatera. Sebuah studi pada tahun 2022 mencatat ada 2.402 kasus konflik sepanjang 2000–2022. Konflik muncul akibat penyempitan habitat dan perubahan lanskap. Gajah dikenal setia pada jalur jelajah tradisional. Ketika jalur itu berubah menjadi pemukiman atau perkebunan, gajah secara alamiah akan bersinggungan dengan manusia.
Angka konflik manusia-gajah berpotensi naik pasca banjir sumatera akhir November lalu. Banjir bandang merusak jalur gajah mencari pakan, air, dan lokasi penggaraman. Kondisi ini mendorong gajah bergerak mendekati kebun dan permukiman. Di sisi lain, eksploitasi habitat yang tidak terkendali meningkatkan potensi pertemuan antara manusia dan gajah liar.
Data Yayasan Auriga Nusantara (2021) menunjukkan sekitar 1,3 juta hektare habitat gajah hilang pada 2007–2020. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2019) juga mencatat bahwa habitat alami gajah liar hanya tersisa 4,6 juta hektare. Tanpa pemulihan habitat dan tata ruang, konflik manusia-gajah berpotensi akan terus meningkat.
Gajah hanyalah salah satu satwa liar yang terdampak akibat banjir sumatera. Seekor Orangutan Tapanuli yang merupakan salah satu spesies orangutan paling terancam punah, turut menjadi korban bencana banjir dan longsor kemarin. Bencana tersebut membunuh dan merusak hutan habitat mereka. Erik Meijaard, Direktur Pelaksana Borneo Futures, memperkirakan sekitar 7.200 hektare hutan di lereng gunung rusak akibat longsor.
Pulau Sumatera merupakan rumah bagi banyak satwa endemik, seperti gajah Sumatera, orangutan Tapanuli, dan harimau Sumatera. Bencana banjir Sumatera akhir November lalu, telah merusak habitat dan menyebabkan kematian satwa. Ironisnya, bencana banjir yang terjadi juga merupakan dampak dari aktivitas manusia yang secara masif merusak alam.
Disisi lain, kondisi geografis Sumatera yang bergunung, berbukit, dan berlembah curam membuat pulau ini rentan bencana. Kerentanan itu diperparah aktivitas manusia, seperti pertambangan ilegal dan alih guna hutan masif. Karena itu, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan memperkuat perlindungan alam. Upaya ini penting untuk menjaga habitat satwa sekaligus mencegah bencana yang merugikan manusia.
(KP/NY)