Libur Nataru Picu Lonjakan Sampah Hingga 59 Ribu Ton, KLH Terbitkan Surat Edaran

Kawasan Urban 25 Des 2025 117 kali dibaca
Gambar Artikel

LingkariNews – Pergerakan wisatawan selama masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) diperkirakan akan memicu lonjakan signifikan timbulan sampah nasional. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memproyeksikan tambahan sampah yang dihasilkan mencapai lebih dari 59 ribu ton sepanjang periode liburan tersebut. 

Sebagai langkah antisipasi, KLH menerbitkan Surat Edaran Nomor 13 Tahun 2025 tentang Pengendalian Sampah Perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Surat edaran ini bertujuan menekan peningkatan volume sampah yang berkaitan langsung dengan tingginya mobilitas masyarakat selama Nataru.

Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Hanif Fasiol Nurofiq mengungkapkan bahwa proyeksi pergerakan masyarakat selama libur akhir tahun mencapai 119,5 juta jiwa atau sekitar 42,01 persen dari total populasi Indonesia. Angka tersebut dinilai berbanding lurus dengan potensi lonjakan sampah. 

“Jumlah masyarakat yang berpergian tersebut berpotensi meningkatkan timbulan sampah sekitar 59.000 ton dari berbagai aktivitas di ruang publik dalam rentang waktu dua minggu masa perayaan tersebut,” tutur Menteri Hanif, dikutip dari Antara, Minggu (21/12/2025). 

Ia menambahkan bahwa peningkatan sampah berisiko semakin besar apabila aktivitas masyarakat masih bergantung pada produk dan kemasan sekali pakai yang sulit dikelola. 

“Potensi meningkatnya timbulan sampah tersebut terjadi apabila dalam berbagai aktivitas menggunakan barang dan kemasan yang sifatnya sekali pakai dan sulit dikelola sampahnya,” tambahnya.

KLH juga menekankan pentingnya pengendalian pengelolaan sampah di berbagai titik strategis selama perayaan Nataru, mulai dari lokasi ibadah, pusat perayaan, kawasan wisata, jalur perjalanan darat, hingga ruang publik lainnya. 

Di sisi lain, upaya pemantauan dan pengelolaan lingkungan turut diperkuat. Hal ini dilakukan melalui peluncuran Sakala, sebuah platform MRV (Monitoring, Reporting, Verification) terintegrasi yang dikembangkan oleh Dassa, perusahaan konsultan lingkungan dan keberlanjutan di Indonesia. Platform ini resmi diperkenalkan dalam acara yang digelar di Ballroom M Jakarta, Selasa (17/12).

Peluncuran Sakala menjadi langkah strategis Dassa dalam mendorong tata kelola lingkungan yang lebih transparan, akuntabel, serta berbasis data. Platform ini dikembangkan berdasarkan pengalaman lebih dari sepuluh tahun tim Dassa yang terlibat langsung di lapangan, mulai dari kawasan hutan, bentang alam, hingga pendampingan komunitas.  

“Selama lebih dari sepuluh tahun, kami belajar saru hal dari alam: nature is always honest. Tantangannya adalah bagaimana kejujuran alam ini dapat sampai kepada para pengambil keputusan secara jelas dan trusted. Itulah alasan Sakala diciptakan,” ujar Sylviana Andhella , President Director Dassa, dikutip dari Antara.

Menurut Sylviana, selama ini proses pengolahan dan verifikasi data lingkungan sering kali memakan waktu lama dan terfragmentasi. Kondisi tersebut berpotensi menghambat pengambilan kebijakan yang cepat dan berdampak. 

Sakala hadir sebagai platform MRV terintegrasi yang menjembatani aktivitas lapangan dengan proses pengambilan keputusan berbasis data yang dapat dipertanggungjawabkan. Platform ini mendukung berbagai kebutuhan, mulai dari konservasi ekosistem, perencanaan karbon, hingga pengembangan sistem pemantauan lingkungan berkelanjutan.

 For us, Sakala is not just technology. It’s a commitment. Karena pada akhirnya, ini bukan hanya tentang data. Ini tentang kepercayaan, tentang tanggung jawab kita pada alam, dan pada generasi setelah kita,” imbuhnya

 (NY)

Sumber

https://travel.detik.com/travel-news/d-8271128/libur-nataru-berpotensi-hasilkan-59-ribu-ton-sampah-ini-yang-bisa-dilakukan